
Keheningan di dalam butik terasa lebih tajam daripada teriakan mana pun. Calon pengantin wanita berdiri kaku di depan cermin besar, wajahnya pucat, matanya tidak lagi memancarkan kesombongan yang beberapa detik sebelumnya begitu jelas. Gaun putih mewah yang ia banggakan kini terasa seperti beban yang mempermalukannya sendiri. Di lantai, calon pengantin pria membantu ibunya duduk perlahan, memastikan ia bisa bernapas dengan tenang. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tetapi karena marah yang ditahan agar tidak berubah menjadi tindakan yang ia sesali.
Ibunya mencoba menyentuh lengan putranya, seakan ingin menenangkannya, tetapi pria itu hanya menggeleng pelan. Selama ini, perempuan tua itu bekerja diam-diam di balik banyak gaun indah, menjahit impian orang lain tanpa pernah meminta penghormatan khusus. Ia datang ke butik itu bukan untuk dihormati sebagai ibu dari calon pengantin pria, melainkan sebagai seorang penjahit yang mencintai pekerjaannya. Justru karena itulah hati pria itu hancur. Ia melihat dengan jelas bahwa orang yang hendak ia nikahi tidak menghargai manusia ketika tidak tahu siapa mereka sebenarnya.
Calon pengantin wanita akhirnya mencoba berbicara, suaranya pecah dan terburu-buru. Ia mengatakan itu hanya salah paham, bahwa ia sedang stres menjelang pernikahan, bahwa semuanya terjadi karena tekanan. Namun tidak ada satu pun kata yang terdengar tulus. Pria itu berdiri, menatapnya dengan dingin, lalu melepaskan cincin pertunangan dari jarinya sendiri. Ia tidak berteriak lagi. Suaranya rendah, tetapi keputusan di dalamnya tidak bisa digoyahkan. Baginya, pernikahan bukan hanya soal pesta, gaun, atau status keluarga, melainkan tentang karakter yang muncul ketika seseorang merasa berkuasa atas orang lain.
Beberapa staf butik yang sejak tadi terdiam mulai mendekat membantu penjahit tua itu. Salah satu dari mereka mengambilkan kursi, yang lain membereskan pita ukur dan kain yang tercecer. Tidak ada yang berani menatap calon pengantin wanita terlalu lama, tetapi tatapan singkat mereka sudah cukup membuatnya tenggelam dalam malu. Ia menoleh ke cermin dan melihat pantulan dirinya sendiri: seorang perempuan dalam gaun pengantin mahal, tetapi kehilangan rasa hormat semua orang di ruangan itu. Untuk pertama kalinya, kemewahan di sekelilingnya tidak membuatnya terlihat tinggi, justru memperjelas betapa rendah sikapnya.
Pria itu kemudian menggandeng ibunya keluar dari butik, berjalan perlahan agar langkah perempuan tua itu tetap nyaman. Sebelum melewati pintu, ia berhenti sebentar dan berkata bahwa tidak ada masa depan yang bisa dibangun di atas penghinaan. Setelah itu, ia pergi tanpa menoleh lagi. Calon pengantin wanita tetap berdiri di tempatnya, dikelilingi cermin yang memantulkan keterkejutan dan penyesalan yang terlambat. Di luar, langit Jakarta mulai gelap, lampu-lampu kota menyala satu per satu. Bagi sang penjahit tua, hari itu bukan akhir dari martabatnya. Bagi perempuan sombong itu, hari itu menjadi pelajaran paling mahal yang tidak pernah bisa dijahit ulang.





