
Keheningan di ballroom terasa seperti dinding kaca yang menekan semua orang dari segala arah. Sang kurir tetap berdiri dengan wajah basah oleh anggur merah, tetapi sorot matanya tidak berubah sedikit pun. Pengantin pria menatapnya seperti sedang melihat masa lalunya sendiri berjalan masuk ke pesta paling mahal dalam hidupnya. Semua kesombongan yang tadi ia pakai seperti mahkota runtuh seketika. Di belakangnya, pengantin wanita perlahan menurunkan pandangan ke lantai, lalu melihat potongan botol, noda anggur, dan wajah pria yang baru saja menjadi suaminya. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak melihat seorang mempelai pria. Ia melihat seorang pengecut.
Dari pintu utama ballroom, dua petugas keamanan hotel masuk lebih dulu, wajah mereka tegang dan ragu. Tak lama kemudian, beberapa polisi berpakaian rapi memasuki ruangan dengan langkah tenang, tanpa suara berlebihan, tanpa kekacauan. Mereka tidak perlu berteriak. Kehadiran mereka saja sudah cukup membuat semua tamu mundur. Polisi berpangkat tinggi yang tadi berada di dalam mobil akhirnya muncul di ambang pintu. Tatapannya dingin, langsung tertuju pada pengantin pria. Sang kurir hanya menunduk hormat sedikit, seolah kedatangan itu memang sudah ia tunggu sejak awal.
Pengantin pria mencoba tersenyum, tetapi bibirnya gemetar. Ia menoleh kepada para tamu, mencoba mencari dukungan dari keluarga kaya, rekan bisnis, dan orang-orang yang selama ini memujinya. Namun satu per satu mereka membuang muka. Ayahnya berdiri kaku di dekat meja utama, ibunya menutup mulut dengan tangan gemetar, sementara pengantin wanita mundur satu langkah lagi. Pria itu akhirnya sadar bahwa uang bisa membeli ballroom, bunga, gaun, dan pesta, tetapi tidak bisa membeli kembali wajah yang sudah terbongkar di depan semua orang. Bisikan kecil mulai menyebar, bukan keras, tetapi cukup tajam untuk merobek harga dirinya.
Polisi itu berhenti tepat di depan pengantin pria. Tanpa banyak kata, ia menerima amplop tebal dari tangan kurir. Di dalamnya ada bukti yang selama ini disembunyikan: rekaman transaksi, pengakuan korban, dokumen palsu, dan jejak uang yang mengarah langsung kepada keluarga pengantin pria. Pengantin wanita melihat amplop itu dengan mata berkaca-kaca, lalu perlahan melepas cincin dari jarinya. Suara kecil cincin itu ketika diletakkan di atas meja terdengar lebih keras daripada musik pernikahan yang sudah lama berhenti. Pengantin pria menatapnya hancur, tetapi ia hanya berkata pelan, “Aku tidak akan ikut jatuh bersamamu.”
Saat polisi membawanya keluar dari tengah pesta, tidak ada yang berani mendekat. Jalan yang tadi dihias karpet indah kini terasa seperti lorong pengadilan. Sang kurir memungut tas kecilnya dari lantai, membersihkan lengan seragamnya sekadarnya, lalu berjalan melewati para tamu tanpa menundukkan kepala. Pengantin wanita berdiri diam, menatap punggungnya dengan rasa hormat yang terlambat. Di luar ballroom, lampu kota Jakarta berkilau dingin di balik kaca besar. Malam itu pesta pernikahan tidak berakhir dengan tarian, melainkan dengan kebenaran. Dan orang yang datang sebagai kurir biasa pergi sebagai satu-satunya orang yang berani menghentikan kebohongan itu.






